bengawan solo, riwayatmu ini
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh …
mata airmu dari solo
terkurung gunung seribu
air mengalir sampai jauh
akhirnya ke laut …
itu perahu, riwayatmu dulu
kaum pedagang s’lalu naik itu perahu…
Masih ingat dengan lagu ciptaan Gesang berjudul Bengawan Solo? Satu dari sedikit lagu keroncong yang sanggup menembus batas-batas kewilayahan dan selanjutnya menjadi begitu terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Tak banyak lagu yang bisa terus bertahan dan menjadi evergreen. Apalagi untuk sebuah lagu keroncong yang notabene identik sebagai lagunya orang-orang tua. Lagu yang berlatar tutur budaya Jawa ini berkisah tentang sebuah sungai yang begitu melegenda. Sungai yang mengalir membelah kota Solo, sebuah kota di Jawa Tengah, sampai ke wilayah Jawa Timur.
Kalau Solo punya Gesang dan Bengawan Solo-nya, Pontianak memiliki Kapuas. Memang, lagu-lagu tentang sungai Kapuas tidak lebih terkenal dibandingkan dengan Bengawan Solo gubahan Gesang. Tetapi bukan berarti tidak ada lagu yang menceritakan tentang keelokan sungai Kapuas.
Satu lagi hal yang senada antara dua sungai yang mampu memberikan inspirasi bagi seorang seniman untuk menggubah karya sastra ini. Keduanya kini terancam oleh pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab. Pendangkalan, mengeringnya aliran air ataupun pencemaran hanyalah sebagian dari derita yang dirasakan oleh kedua sungai besar di wilayahnya masing-masing.
Seperti dikisahkan oleh lagu Bengawan Solo, di Kapuas dahulu kaum pedagang selalu naik perahu untuk melangsungkan kegiatannya. Boleh dikatakan sungai Kapuas adalah nadi perekonomian Kalimantan Barat. Kini, aktivitas perdagangan masih tetap berlangsung namun keberadaannya mulai terancam oleh sering surutnya air sungai Kapuas. Banyak kapal yang kemudian tidak bisa berlayar saat musim kemarau, dimana air menjadi sangat surut. Para pedagang yang selama ini menggantungkan hidupnya pada Sungai Kapuas mulai ketar-ketir karena dengan menyusutnya aliran Sungai Kapuas, maka terancam pula usaha mereka. Lebih lanjut, kondisi ini juga ikut menyumbang kendala pada roda perekonomian masyarakat secara lebih luas. Pasokan bahan bakar dari luar propinsi, transportasi, maupun lalu lintas barang kebutuhan sehari-hari dari maupun ke pedalaman menjadi tersendat.
Tak hanya aktivitas perdagangan. Aktivitas yang menunjang hajat hidup orang-orang di pinggiran Kapuas pun semakin hari semakin terancam. Pencemaran air semakin lama semakin tinggi kadarnya. Belum lagi akibat penambangan emas tanpa ijin di daerah hulu, air Sungai Kapuas terancam dicemari oleh merkuri. Logam berat yang sangat berbahaya ini telah sekian lama terbawa aliran sungai ke arah hilir akibat terus berlangsungnya aktivitas penambangan emas yang tidak bertanggung jawab.

Semakin Tercemar
Data yang dilansir oleh Kompas pada tahun 2000, air ledeng yang dialirkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum Kodya Pontianak tercemar merkuri sampai tiga-lima kali lebih tinggi diatas ambang batas yang boleh dikonsumsi manusia. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Dr Thamrin Usman, pakar kimia Universitas Tanjungpura menyebutkan bahwa di beberapa tempat kandungan merkuri di aliran Sungai Kapuas mencapai 200 kali lebih tinggi dari ambang batas. Bila sejak saat itu air yang dikonsumsi oleh sebagian besar warga Pontianak pada khususnya dan Kalimantan Barat umumnya telah tercemar sedemikian beratnya, bisa dibayangkan betapa besarnya polutan yang mungkin telah tecerap dan terakumulasi dalam tubuh warga masyarakat.
Lokasi penambangan emas ilegal di Kalbar tersebar di 363 titik. Areal yang dikerjakan seluas minimal 6.385 hektar dengan menggunakan sedikitnya 3.113 unit mesin yang berkekuatan 20-100 tenaga kuda (PK). Pekerja yang terlibat dalam kegiatan itu kurang lebih 15.565 orang. Sebelumnya, lokasi-lokasi itu berupa hutan dan lahan, tetapi kini menjadi tandus, gersang. Sebagian besar hamparan berubah menjadi kubangan dengan luas berkisar 200-5000 meter persegi dan kedalaman 10-20 meter.
Sebagai perbandingan pertambangan di Kalimantan Tengah, terdapat 2.300 tromol emas yang membuang 10 ton merkuri per tahun dan mencemari 11 sungai di sana. Menurut Endang Sri Heruwato dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, dari jumlah tersebut 1.500 tromol membuang 1,5 ton merkuri dalam tiga bulan terakhir ini ke Sungai Kahayan. ‘’Akibatnya kadar merkuri pada air dan ikan melebihi ambang batas,’’ ujarnya. Kadar merkuri di Sungai Barito mencapai 0,79-9,79 ppb di air dan 1,76-24-67 ppb di sedimen.
Pencemaran lingkungan sebenarnya sangat riskan bagi manusia. Penyakit darah tinggi (hipertensi), gagal ginjal, komplikasi jantung, sampai kangker bahkan menurunnya angka harapan hidup masyarakat secara lebih luas akan semakin meningkat prevalensinya seiring semakin tingginya pencemaran yang terjadi di lingkungan tempat tinggal manusia. Tidak hanya dalam satu atau dua generasi, dampak pencemaran logam berat semacam merkuri melintas sampai beberapa generasi. Kerusakan jaringan otak, menurunnya tingkat kecerdasan, cacat fisik maupun mental mengancam generasi muda yang dilahirkan, tumbuh dan dibesarkan di daerah yang terpapar oleh zat pencemar.
Tragedi Minamata di Jepang dan Teluk Buyat di Sulawesi adalah sedikit dari sekian banyak contoh kasus yang seharusnya bisa menjadi bahan pelajaran bagi para pihak yang terkait. Meskipun kasus pencemaran oleh PT. Newmont di Teluk Buyat masih belum tuntas pembuktiannya bukan berarti bahwa masyarakat boleh bergeming dengan bahaya pencemaran yang mengancam. Hasil penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan pencemaran merkuri dan arsen di Teluk Buyat telah menyebabkan ikan tercemar merkuri. Endang menyatakan, ‘’Dari hasil penelitian kadar merkuri di hati ikan 9,1 mg/g. Merkuri dari tambang terbuang setiap kali proses 14,5%, sedangkan gas sebesar 2,5%. Kadar pada sedimen dan ikan mencapai 0,116-13,87 ppm.’’ Lebih lanjut, yang paling lebih berbahaya lagi jika limbah dalam bentuk senyawa organik (metal merkuri) larut dalam air, lemak dan dapat terakumulasi pada biota air termasuk ikan. ‘’Metil merkuri sangat berbahaya karena mampu diserap tubuh hingga 95%. Metil merkuri ini bisa tertimbun dalam ginjal, otak, janin, otot, dan hati manusia,’’ jelasnya.

Hujan dan Kandungannya
Masih tentang pencemaran air. Sistem hidrologi membawa air tidak hanya berada di darat, tetapi juga di udara dalam bentuk uap air. Uap air ini yang kemudian menjadi titik-titik air yang kembali turun dalam bentuk air hujan. Selama ini, warga masyarakat di Kalimantan Barat juga memanfaatkan air hujan sebagai salah satu ”aset” dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tidak sedikit dari warga masyarakat yang menampung air hujan untuk digunakan selama musim kemarau. Air hujan tersebut selain digunakan untuk keperluan MCK kadang juga dikonsumsi. Kondisi air tanah yang kurang begitu bagus di beberapa tempat memaksa masyarakat menggunakan air ini juga untuk memasak dan dikonsumsi sebagai air minum.
Namun, dibalik itu sebenarnya ada yang patut diwaspadai dalam penggunaan air hujan untuk dikonsumsi. Kandungan kimiawi air hujan sering membahayakan bagi kesehatan. Meski nenek moyang manusia telah memanfaatkan air hujan sejak lama, bukan berarti kebiasaan tersebut layak ditiru tanpa memperhatikan faktor perubahan yang terjadi di lingkungan.
Sebenarnya penguapan air dari permukaan bumi adalah penyaring yang bagus karena kotoran yang tercampur dalam air tidak ikut menguap. Unsur-unsur terlarut tertinggal karena beratnya sehingga air yang menguap bisa dikatakan murni. Sayangnya, uap air yang terkumpul dalam awan tidak bebas polusi. Polusi udara yang semakin meningkata belakangan ini mengakibatkan titik-titik air di udara mengikat pula polutan yang terkandung di udara. Bahkan di daerah-daerah dengan pencemaran yang tinggi, kemungkinan terjadinya hujan asam meningkat.
Air hujan ini terasa agak pahit bila diminum atau digunakan untuk berkumur. Ini disebabkan olehzat urea yang terkandung di dalamnya. Akibat petir, molekul-molekul air bereaksi dengan unsur nitrogen di udara menjadi urea. Air hujan juga kurang mengandung kalsium dibandingkan dengan air tanah dan air mineral. Maka wajar saja bila gigi dan tulang warga masyarakat yang mengkonsumsi air hujan setiap hari secara terus menerus sepanjang hidupnya akan mudah mengalami kerusakan.
Pada dasarnya, air hujan bersifat asam lemah karena ikatannya dengan karbon dioksida di udara. Bila udara tercemar kandungan nitrogen dan belerang di udara meningkat. Unsur-unsur inilah yang paling berperan meningkatkan keasaman air hujan. Ketika bercampur dengan debu di atmosfer maka kualitas air hujan semakin menurun. Tingkat keasaman yang tinggi dalam air hujan bersifat korosif. Logam pun dapat terkikis apalagi bila tubuh manusia terpapar hujan asam.
Tentunya tidak salah untuk mengkonsumsi air hujan, sepanjang dilakukan secara bijaksana. Bila masih mungkin mendapatkan air tanah maka disarankan untuk tetap mempergunakan sumber air ini. Karena, tanah menyaring unsur-unsur berbahaya yang meresap di dalamnya sehingga air relatif tidak tercemar. Namun bila memang tidak mungkin mendapatkan air tanah yang bersih, maka penampungan air hujan seyogyanya diusahakan dari air yang jatuh langsung dari langit untuk meminimalkan kontaminasi debu mau polutan-polutan lain.

Minimnya Pemanfaatan
Dari empat belas kawasan konservasi yang berada dibawah koordinasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, saat ini ada dua kawasan yang secara nyata dimanfaatkan potensi airnya oleh pihak swasta. Pontensi jasa lingkungan air di sekitar kawasan Cagar Alam Raya Pasi dimanfaatkan oleh empat perusahaan air mineral dalam kemasan (AMDK) yaitu PT. Pasqua, PT. Erpass, PT. Borneo Sun, dan PT. Maskua. Sementara itu, satu kawasan lainnya yang juga dimanfaatkan adalah Taman Wisata Alam Bukit Kelam. Kawasan-kawasan lain dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air minum, MCK, transportasi, irigasi, peternakan dan perikanan serta wisata.
Sekedar untuk diketahui, salah satu persyaratan suatu jenis air memenuhi persyaratan sebagai bahan baku AMDK adalah berasal dari ketinggian tertentu, di bagian atas/hulunya ada kawasan hijau sebagai peresap jatuhan air hujan, jauh dari permukiman penduduk ataupun kawasan pertanian pengguna pestisida (senyawa antihama/penyakit) ataupun pupuk anorganik/pupuk pabrik. Oleh karena itu, air tersebut tidak dibolehkan untuk diolah/dibersihkan/disehatkan dengan senyawa kimia (dengan penambahan koagulan kimia, penambahan kaporit dan sebagainya), tetapi hanya sebatas pengolahan secara fisik (penyaringan secara pasir kasar kemudian pasir halus). Kalaupun untuk menjamin kesehatannya (tidak ada mikroba pencemar apalagi patogen), cara pemusnahannya hanya menggunakan ozon atau O3 saja. Ini sesuai dengan ketentuan IBWA (International Bottled Water Associsation) yang berpusat di Cincinnati, Amerika Serkat, atau ketentuan ABWA (Asian Botteled Water Association) yang berpusat di Jakarta.
Kurangnya pengetahuan akan potensi-potensi kawasan secara umum menyebabkan pemanfaatan sumber daya air di Kalimantan Barat hanya sebatas hal-hal yang disebutkan di atas. Padahal, secara ekonomi domain usaha tesebut tidak memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat umum. Hanya sedikit pihak-pihak yang akan diuntungkan dengan aktivitas perekonomian tersebut. Justru masyarakat tradisional seringkali tidak bisa menikmati hasil ”jualan” sumber daya air. Masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan seringkali terpaksa harus menempati posisi yang kurang menguntungkan dalam mekanisme pemanfaatan air. Justru pada saat yang bersamaan mereka harus menanggung dampak degradasi kualitas lingkungan. Ketidak berdayaan masyarakat berbuntut pelanggaran terhadap kawasan konservasi. Pelanggaran ini bermuara pada konflik yang sulit dipecahkan.
Bandingkan saja, seberapa besar masyarakat yang dilibatkan dalam industri pengolahan kayu? Atau berapa keuntungan yang diterima oleh masyarakat bawah dengan adanya penambangan? Sementara itu berapa besar kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kedua usaha tersebut? Berapa besar peningkatan kemungkinan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor akibat pembukaan areal hutan?
Apabila ditinjau dengan lebih arif, tentu perlu dikaji ulang pemanfaatan kawasan dan konversinya menjadi areal non hutan. Salah satu sebab mengapa banjir bisa terjadi di daerah hilir karena tidak ada lagi daerah resapan air di hulu. Ditambah dengan perilaku yang tidak bijaksana pada penataan dan pengembangan kawasan padat penduduk serta minimnya perhatian pada daerah aliran sungai, ketiadaan daerah resapan telah meningkatkan resiko terjadinya bencana besar bagi manusia. Tanah longsor dan banjir besar tinggal menunggu waktu bila pemanfaatan yang bijaksana tidak segera dilakukan. Membiarkannya menjadi tanggung jawab sektoral tentu bukan sebuah pemikiran yang bijak. Sangat sulit untuk melakukan mitigasi dampak negatif bila para pihak tidak memiliki pola pikir yang sejalan. Sinkronisasi rencana pengelolaan terhadap potensi sumber daya air di dalam dan sekitar kawasan harus dibarengi dengan pengelolaan di sektor yang lebih luas.

Dari Air Jadi Listrik
Sumber daya air sangat potensial dikembangkan untuk menjawab konflik tersebut. Tanpa merusak kawasan, ada barang jasa yang melimpah dan menunggu dimanfaatkan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan. Misalnya seperti yang dikembangkan oleh Tri Mumpuni, seorang lulusan Institut Pertanian Bogor yang juga Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA). Ibu dua anak berumur 42 tahun ini mendapatkan gagasannya saat berkunjung ke Alpenzell, Swiss. Petani disana telah berhasil membangun sumber listrik tenaga air mini yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan usaha pertaniannya. Bahkan sisanya ada yang dijual kepada Grid, Perusahaan Listrik Negara Swiss.
Hanya sebagian sangat kecil potensi kelistrikan air di Indonesia yang telah dimanfaatkan, mengingat kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk membangun pembangkit listrik skala besar. Selain itu, biaya pembangunan PLTA sendiri sangat besar dan dampak pembangunan pembangkit listrik dalam skala besar bisa merugikan lingkungan. Kendala ini kemudian disikapi oleh wanita yang berhasil menyabet penghargaan Tokoh Utama Tempo 2006 dari Majalah Tempo dengan inovasi pembangkit listrik mikro hidro. Inovasi ini juga yang membawanya menyandang predikat Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fondation (WWF) International.
Ide pembangkit listrik tenaga mikro hidro sebenarnya bukan merupakan barang baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mekanisme yang tergolong baru adalah bagaimana kemudian tenaga listrik yang dihasilkan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan secara ekonomi meningkatkan pemberdayaan masyarakat tradisional. Selama ini pasokan sumber listrik bagi perumahan disediakan hanya oleh satu pemasok tunggal yaitu PT PLN. Tanpa bermaksud mengecilkan peran PLN dalam pengelolaan pasokan listrik, sebenarnya sangat mungkin sekali untuk menumbuhkan pemberdayaan masyarakat melalui pengusahaan listrik skala mikro. Juga, negara akan sangat diringankan karena subsidi untuk memproduksi listrik murah dapat dianggarkan untuk pos-pos yang lain. Iklim persaingan yang bebas dan sehat dengan memberikan kesempatan pada masyarakat untuk mengelola bisnis penyediaan tenaga listrik akan meningkatkan perekonomian masyarakat secara umum.
Ongkos rata-rata produksi PLN sebesar Rp 1000 per kilowattjam (kWh). Seperti disampaikan Direktur Jenderal Listrik Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, jika berhasil mengembangkan listrik mikrohidro ditambah listrik dari tenaga matahari, biaya produksi PLN akan turun menjadi Rp 700 per kWh. Artinya, angka subsidi listrik bisa dipangkas dalam porsi jumbo. Tahun 2006 saja, negara harus memberikan suntikan subsidi bagi PLN sebesar Rp 38 triliun.

Hidrogen, Sumber Energi Baru

Inovasi teknologi dalam pemanfaatan sumber daya air bisa juga seperti yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa di bidang otomotif. Unsur hidrogen dalam air mampu mereka pisahkan untuk dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga dalam kelistrikan kendaraan bermotor.
Tidak dapat dimungkiri bahwa bahan bakar fosil bukanlah sumber energi yang dapat terbarukan dengan segera. Bila dimanfaatkan secara serampangan dan tidak adanya sumber energi pendamping, maka suatu saat akan terjadi kelangkaan bahan bakar. Fenomena tersebut bisa terjadi tidak lama lagi bila melihat situasi dunia yang seperti sekarang ini. Salah satu contoh terbaru adalah adanya kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak. Subsidi dari pemerintah tidak cukup untuk menghadapi fenomena kelangkaan bahan bakar minyak dan melambungnya harga minyak dunia.
Kredit tersendiri harus diberikan kepada para ilmuwan yang tidak henti melakukan riset dan penelitian terhadap kemungkinan pemanfaatan air menjadi sumber penghasil energi alternatif. Produksi hidrogen saat ini mencapai 500 juta m3 per tahun, setara dengan 3,3 milyar barel minyak per hari. Ini juga setara dengan 10 % energi yang saat ini digunakan untuk transportasi. Hidrogen saat ini sebagian besar dibuat dengan cara oksidasi parsial atau reformasi uap minyak bumi, gas alam, metanol dan elektrolisis air. Tetapi kedepannya, kemungkinan cara produksi sangat beragam, bahkan alga yang telah dimodifikasi dapat juga menghasilkan hidrogen.
Produksi hidrogen relatif lebih mudah dibandingkan dengan proses pembuatan bahan bakar konvensional. Sebagai konsekuensinya, tidak ada yang akan mampu mengkontrol suplai hidrogen. Semua pihak memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk mengembangkannya. Artinya, hidrogen memiliki potensi untuk menjadi bahan bakar masa depan. Hidrogen dapat diproduksi dari sumber daya yang lestari dan dapat diperbarukan dan memiliki kontribusi dalam memenuhi peningkatan kebutuhan energi di dunia.
Selain itu, menurut para ilmuwan pengembangnya, bahan bakar yang dihasilkan dari hidrogen lebih ramah lingkungan. Saat digunakan sebagai bahan bakar pada mesin tidak ditemukan adanya emisi yang berbahaya. Hal ini karena tidak adanya kandungan karbon didalam bahan bakar yang digunakan. Penggunaan energi mungkin merupakan faktor utama yang mempengaruhi perubahan iklim. Maka dari itu, sangat penting untuk memulai transisi menuju penghasil energi yang lebih bersih dan bernuansa lingkungan.

Jangan hanya BBM…
Ada banyak peluang untuk memanfaatkan sumber daya alam tanpa harus merusak dan menjadi kehilangan sumber-sumber itu. Investasi yang terlihat besar di awal mungkin membuat jeri. Dari sumber air saja, ada banyak keuntungan yang bisa diraih. Sementara keuntungan diraih, kelestarian dan ”kesehatan” lingkungan tetap terjaga. Benar kata Gesang, air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Namun, dalam alirannya dari hulu sampai ke hilir, air bisa menjadi air minum yang sehat, bisa menjadi sumber tenaga, juga menjadi bencana.
Tri Mumpuni telah memberi contoh usaha pemanfaatan air dengan memberikan pendampingan masyarakat di berbagai tempat. Penduduk Curug Agung, Subang, Jawa Barat bahkan telah mampu menjual daya kepada PLN. Dari hasil penjualan daya ini mereka mampu meningkatkan taraf hidup mereka, selain juga menumbuhkan usaha perekonomian di daerah tersebut. Mengingat sampai saat ini listrik di Kalimantan Barat pada umumnya masih byar-pet maka akan sangat menarik untuk mencoba sedikit mengalihkan perhatian pada kemungkinan pengembangan ke arah itu.
Sebuah lingkaran emas karena dengan demikian tercipta kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Selain itu, dengan adanya listrik secara tidak langsung mereka juga mampu mencerdaskan kehidupannya. Sebuah tujuan mulia seperti yang tercantum dalam undang undang dasar republik ini sebagai mimpi besar yang suatu saat sangat mungkin terwujud. Mengutip jargon parodi politik di salah satu stasiun TV, semoga bukan ”baru bisa mimpi”! (gie)

Advertisements